Instrumen Hujan

 


Apakah kamu membaca ini saat hujan?

Harusnya sekarang aku sedang belajar di tempat les-ku. Tapi karena hujan, aku singgah dulu di sebuah warung. Bersama segelas minuman hangat. 

(Bandung, 25/11/20)

~

Jarak dari rumah ke tempat les cukup jauh. Di daerah rumahku belum hujan, tapi langit di daerah tempat les sudah mendung. 

Aku berangkat bersama ibuku naik motor. Sambil berdoa, Ya Allah jangan hujan dulu sebelum aku sampai di tempat les... 


Tak kusangka, ternyata hujan deras turun saat aku sudah dekat ke tempat les. Setelah berpikir lama, aku dan ibu akhirnya singgah di emperan toko. Ada penjual minuman sachet disana. Ada juga beberapa orang bapak - bapak.

Di depan toko itu aku merenung, menikmati instrumen hujan sambil berpikir, 


lanjut les atau nggak ya... 


Masalahnya jas hujanku tembus dan.. celanaku basah. Begitupun dengan sepatu dan kaus kakiku. Lagipula, aku sudah terlambat.


Akhirnya aku tidak pergi les. Padahal aku sudah tak sabar akan bertemu dengan guru dan teman - temanku. Shouganai ne..?


Banyak hal yang kulihat setelah itu, orang" yang mengumpat karena kehujanan, orang yang nekat menerobos hujan dengan kantong kresek atau kardus sebagai payungnya, sampah yang mengalir di pinggir jalan, dan masih banyak lagi.


Tapi aku tetap menikmati instrumen hujan itu, dentuman petir, petikan air di atap seng, dentingan angin bahkan suara kendaraan yang dengan kurangajar mencipratkan genangan air.


Ketika hujan sedikit mereda, aku dan ibu pergi ke warung Teh Elis, di dekat gang tempat les adikku. Kami terhalang banjir untuk menjemput adik.


Alhamdulillah, Allah turunkan hujan. Allah kasih waktu mustajab untuk berdoa. Allah kasih kolam renang gratis buat anak - anak di gang, dan kenikmatan segelas energen. Sudah lama aku tidak main hujan - hujanan, ehe.



Kalau di tempatmu juga sedang hujan, jangan lupa berdoa, ya.

اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً

Ya Allah, turunkan lah pada kami hujan yang bermanfaat."

Comments

Popular Posts