Hari Terakhir PAT


Hari terakhir Penilaian Akhir Tahun di Kelas 8.


Saat itu mata pelajaran matematika. Pengawasnya perempuan, guru PPL. Beliau masuk ke kelasku dan memberikan lembar absensi untuk ditanda tangani oleh kami. 


Ketika ujian dimulai, pengawas berkata, "Boleh kerjasama, sama ibu mah santai aja." 

Teman - temanku sebagian besar senang pastinya. Tapi aku dan beberapa orang teman bodo amat dan tetap mengerjakan ujian dengan jujur. Nggak KS alias kerjasama. Cuma satu hal yang menggangguku ;


Suara mereka terlalu berisik! Dan itu membuat aku nggak fokus. Apalagi pelajaran matematika, aku jadi nggak bisa berfikir. Aku sangat kesal, tapi aku tahan sampai menit - menit terakhir. 


Teman - temanku yang kerjasama itu, jelas selesai lebih dulu dan mereka asyik mengobrol. Aku selesai paling terakhir. Selain karena memang aku berhitungnya lama, juga karena aku nggak bisa fokus. Karena sudah nggak tahan lagi, akhirnya aku nangis. Awalnya hanya keluar air mata, tapi lama - kelamaan nangisnya bersuara. (cengeng banget ya :v)


Teman - temanku ternyata melihat aku nangis. Mereka bertanya - tanya dan itu malah bikin tangisku makin kencang. 


Lalu mereka bilang ke pengawas kalau aku nangis. Pengawasnya malah bilang, "Kenapa? Belum selesai?" 

Aku nggak jawab karena aku kesel banget sama pengawas itu. 


Beliau malah bilang, "Hei bantuin nih temannya ada yang belum selesai." 


Woy aku nangis bukan karena itu! 


Perasaanku sudah sangat sangat buruk. Pengen teriak, tapi nggak mungkin.


Yang buat aku semakin kesal, teman" malah nurut sama pengawasnya dan bantuin aku. Aku langsung cepat" isi jawabannya asal, menghiraukan mereka.


Selesai ujian, aku menelepon ibuku dan menceritakan semuanya. Aku kemudian menemui temanku dari kelas lain dan menangis didepannya. Aku sangat kacau dan emosi saat itu.


Temanku kaget. Dia menenangkanku, "Minum dulu Mar, ada minum kan? Ayo kita ke Masjid, salat dhuha dulu."


"Aku mau kasih tahu ke wali kelasku!" Responku saat itu. Aku dan temanku segera ke ruang guru dan menceritakan semuanya--sambil terisak--kepada wali kelasku. Dia kemudian menasehatiku,


"Ibu percaya kamu orang yang jujur. Dan kamu pasti nggak suka sama situasi tadi. Sabar ya.. nanti ibu bicarakan sama kepsek ya. Udah jangan nangis lagi." (Intinya gitu tapi aku lupa persisnya gimana)


Karena capek, aku berhenti nangis. Aku dan temanku pun berjalan ke masjid dan berencana untuk salat dhuha. Tapi di masjid ada bapak - bapak lagi tidur. Akhirnya kami duduk di tangga masjid dan saling curhat.


5 bulan kemudian, ketika aku teringat hari itu lagi, aku cukup menyesal. Aku merasa bersalah karena sudah menangis dan marah - marah didepan temanku. Seharusnya waktu itu aku langsung ke masjid bersama temanku agar lebih tenang dulu. Setelah itu baru menceritakan semuanya ke wali kelasku. 



Harusnya begitu, kupikir. 


Noted. Hari itu juga pelajaran buatku.


Comments

Popular Posts